Kamis, 07 Maret 2019

Merajut Kenangan


"Merajut Kenangan"

Bagai api yang membakar dan menghangatkan. 
Selalu hadir tanpa sadar saat kita sudah melupakan.
Tidak bisa memungkiri bahwa kita terukir dari kenangan. 
Nyatanya perasaan hentikan penyesalan. 

Maafkanlah kesalahan, tertawakan rajutan kenangan.
Mungkin memang ia digariskan untuk ada disana. 
Pada akhirnya jemari akan menemukan genggaman yang ada. 
Rasanya seperti memandang jutaan cerita. 
Serasa dunia milik berdua. Rajutannya terlepas juga!

Semua akan berujung pada meninggalkan atau ditinggalkan. 
Lalu waktu akan menghentikan perdebatan. 
Yang tak perlu dipermasalahkan jadi bahan ejekkan. 
Hingga tersisa beberapa rajutan kenangan.

Serupa dendam yang menyala dimalam kehilangan. 
Dengan raga menuju pagi bergentayangan.
Cinta bukan melepaskan tapi merelakan. 
Bukan pula memaksa,Tapi memperjuangkan.



Oleh : Fatricia Putri LM
GORONTALO, 08 maret 2019

Sabtu, 02 Maret 2019

Tawa Diatas Duka


"Tawa diatas Duka"

Sayup-sayup bahagia terdengar riuh. 
Dikala duka melanda tanah mongondow. 
Berlomba lomba warna-warni dilangit beraduh.
Senyuman terlihat dibalik tawa patuh.
Tak ada yang memperdulikan duka hari itu. 
Sibuk terlihat keren didepan kamera selalu.
Patuh akan hal yang mengurangi nuranimu

Satu persatu hilang tanpa sayap
Redup bintang dibuai lelap. 
Bulan merintih diujung gelap.
Pagi itu bersorak ria Asap. 
Cat warna warni terlihat mantap .
Tapi bagai,duri menancap.
Para korban yang terjelembap.

Miris tawa diatas duka!
Tanpa memperdulikan akan duka tanah mongondow. 
Dimanakah rasa iba yang terangkum dalam diri manusia? 
Apa hanya mereka yang harus merasakan penderitaan? 
Disaat duka masih tersirat dalam bait doa. 
Mereka hanya asik tertawa dan mengabaikannya. 
Tunggu... mungkin hari ini tertawa sepuasnya.  
Tapi esok, atau lusa duka pasti akan ada,Yakinlah kuasa dariNya. 

Pada keras laju merahnya darah
Sebelum berubah menjadi nanah
Serta membusuk di dalam tanah
Lewat hati nurani kita semua,ayo berubah! 




Oleh : Fatricia Putri LM
Gorontalo, 02 Maret 2019




Kamis, 28 Februari 2019

Longsor Melanda Tanah Mongondow



 "Longsor Melanda Tanah Mongondow"

Berserakan tubuh-tubuh penuh dosa. 
Tertindih reruntuhan bebatuan.
Berharap melanjutkan kehidupan mereka. 
Berdoa dan berusaha kuncinya. 

Mengeluh, mencoba, menyusup dicela. 
Wajah-wajah memerah penuh darah. 
Pengap, gelap,terdengar suara merdu ayam. 
Lewat celah ternyata masih subuh!

Demi sesuap nasi!. 
Tak dipungkiri menyisahkan tangis. 
Histeris, hingga mengikis hati. 
Keringat lelah tak terbayarkan secara gratis

Nyawa taruhannya! 
Demi rupiah yang tak seberapa.
Tertimbun ratusan manusia. 
Hanya tersisa beberapa yang terluka. 

Apakah ini teguran dariNya? 
Tanah,bebatuan, jadi saksi. 
Manusia melanggar sanksi dunia. 
Hingga tragedi ini harus diterima.



Oleh : Fatricia Putri LM
KOTAMOBAGU, 01 maret 2019
Mengenang para penambang lokasi Bakan.

Senin, 25 Februari 2019

Rindu Berujung Pena



"Rindu Berujung Pena". 

Ku tuliskan balutan tinta biru. 
Ku intip bahwa hati masih rindu. 
Hingga masih menggebu gebu. 
Rintihan usaha telah bersatu. 

Hati tak bisa mengobrol lewat rindu. 
Tapi setiap untaian kata menjadi kelabu.
Janganlah kamu sampai keliru.
Tancapkan dalam balutan tinta biru. 

Berakhir syahdu,diantara malam berabu.
Berujung menjauh,dan berlabuh
Sedih ini tak bersambut,tak ada lagi aku. 
Bermuram dibalik senyum tak dapatimu.



Oleh : Fatricia Putri LM
Kotamobagu, 25 Februari 2019

Sabtu, 16 Februari 2019

Senja Bernama Doa


"Senja Bernama Doa"


Syahdunya ku berdoa untukmu. 
Tanpa rasa takut padaNya. 
Diujung ufuk,ku duduk menunggu.
Dalam ketidakpastian rasa.

Terbelenggu dalam bait bait doa. 
Langit menampakkan senjanya. 
Tersipu malu ku menatapnya. 
Hingga diam menjadi sebuah alasan nyata. 

Menanti dan tak kunjung pasti. 
Hingga sekedar sapa, menjadi rumit. 
Jarak kita menjauh dan hanya  hati menjadi saksi. 
Langit pun jadi saksi,saat senja tiba ku hanya berdoa agar kita pasti pasti. 

Tapi kenyataan pahit yang ku terima adalah mundur perlahan. 
Alasannya hanyalah sebuah formalitas. 
Diam diam ada seorang pecandu doa. 
Menjadikan kita berhenti pada perbedaan rasa. 

Ku titipkan saat senja jatuh. 
Ku titipkan semuanya dalam kekuatan doa. 
Ku titipkan dia agar selalu terjaga. 
Ku titipkan bahwa jika jodoh dia akan kembali jua. 

Senja itu dia.Tapi tidak lagi,
entahlah! tak pasti. 



Fatricia Putri LM
Kotamobagu, 16 februari 2019

Sabtu, 09 Februari 2019

Ku kira Aku


"Ku kira Aku"

Aku bersedia memperjuangkanmu. 
Ternyata aku keliru. 
Menunggu kamu. 
Dan kita bagai semu. 

Dia cari-cari,bukanlah Aku... 
Aku bukan kebutuhan.
Tapi sebuah pertanyaan tanpa jawaban. 
Ku jadikan dia prioritasku,Lagi-lagi bukan Aku! 

Menilai awal ternyata tak selalu benar. 
Menomorsatukanku bukan tujuan utamanya. 
Nyatanya dia tak pernah menanggapku lebih
dari seorang teman! Selagi aku mampu kawan! kataku. 

Ketika aku menghilang.
Ku pikir dia akan merindukanku.
Hingga aku kembali,dan tersadar. 
Ku kira Aku,ternyata bukan!




Oleh : Fatricia Putri LM
10 Feb 2019

Pesan Dari Semesta


"Pesan Dari Semesta"

Telah banyak yang telah disampaikanNya
Sensasi perjalanan yang berbeda. 
Lalu membawa hasil yang harus diterima. 
Catatan tersimpan dalam pena kejujuran 

Semua memiliki aturan, lalu? 
Mengapa terjadi benturan adu spekulasi?
Sehingga kesan diambil tidak beraturan. 
Hingga datanglah pesan dariNya. 
Yang dianggap sebagai teguran. 
Pesan dari Semestakah itu? 
Atau hanya semua batas nalar manusia saja. 

Ingat dan waspadalah! 
Kursi-kursi alam telah goyah. 
Angin surga tak tahu arah. 
Hujan masih menentukan keputusan Zeus. 

Entahlah Zeus melecutkan petirnya.
Dan, saling memperebutkan mahkota dengan medusa. 
Seperti manusia yang masih mengutamakan duniawi, dan hanya lewat bencana kecil pesan itu tersampaikan!.


Oleh : FatriciaPutriLM


09 Februari 2019
Back to inspiration!