"Merindukan Sang Nisan"
Di bawah langit luruhnya duka kabut senja.
Kusandarkan lara pada prasasti yang membisu.
Menghitung detik yang berubah menjadi jeda.
Sejak jemarimu melepaskan genggaman tanganku.
Angin malam membisikkan namamu yang sunyi.
Mengirim aroma tanah yang mendekapmu erat.
Di sini aku terpenjara nelangsa rindu yang tak bertepi.
Menatap nisanmu dengan hati tersayat air mata jatuh tanpa suara.
Batu dingin kini menjadi saksi abadi.
Tentang cinta yang terputus oleh batas dunia.
Meski ragaku terpisahkan oleh sunyinya mati
Kau tetap hidup dalam setiap doa.
Kotamobagu, 01 Oktober 2026
Fatricia Putri LM



